Dapur Bebas Bau Ala Wijaya Catering

08 June 2026 458 Titik Sampah

Aktivitas di dapur Wijaya Catering, Borongan, Kudus, hampir tak pernah benar-benar sepi. Sejak pagi, sayuran mulai dibersihkan, bumbu diracik, dan ratusan kotak makanan disiapkan untuk memenuhi pesanan pelanggan.

Di balik kesibukan itu, ada satu kebiasaan sederhana yang menjadi bagian dari rutinitas mereka setiap hari yaitu memilah sampah.

Bagi Udin, pemilik Wijaya Catering, kebiasaan tersebut bukan sesuatu yang langsung berjalan mulus. Namun seiring waktu, pemilahan sampah menjadi bagian dari budaya kerja yang dijalankan seluruh tim di dapurnya.

Padahal, usaha yang kini melayani ratusan hingga ribuan porsi makanan itu bermula dari langkah yang sangat sederhana. "Memang awalnya dari masakan rumahan. Dulu almarhum mertua jualan, kemudian ada tetangga yang pesan karena mereka tidak sempat memasak," ujar Udin, kepada tim Kudus Asik, belum lama ini.

Dari pesanan tetangga sekitar, usaha tersebut perlahan berkembang menjadi catering yang kini melayani berbagai kebutuhan masyarakat. Jumlah pesanan pun tidak selalu sama setiap hari. "Catering itu fluktuatif. Rata-rata per hari ratusan box. Kadang di bawah 100 box, kadang juga sampai ribuan," katanya.

Besarnya aktivitas produksi tentu menghasilkan volume sampah yang tidak sedikit. Terlebih sebagian besar menu yang diolah merupakan makanan basah yang membutuhkan bahan-bahan segar setiap hari.

Sisa sayuran, kulit buah, hingga bahan makanan yang tidak terpakai menjadi jenis sampah yang paling banyak dihasilkan dari dapur tersebut. Karena itulah, Wijaya Catering memilih untuk melakukan pemilahan sejak awal.


Bebas Bau

Di area produksi tersedia tiga tempat sampah yang digunakan untuk memisahkan jenis sampah sebelum tercampur. Sampah organik yang terkumpul kemudian diambil secara rutin oleh tim Kudus Asik setiap Senin hingga Sabtu untuk diolah lebih lanjut.

Menurut Udin, kebiasaan memilah sampah memberikan manfaat yang langsung dirasakan, terutama dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan kerja.

"Memang lebih baik kita memilah atau membedakan antara sampah organik dengan anorganik. Kalau dicampur, apalagi saat musim hujan, bisa jadi bau sekali. Dulu juga sempat ada berita viral soal sampah yang tidak terangkut. Kalau sampah tercampur, dampaknya memang cepat terasa," ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui membangun kebiasaan baru membutuhkan proses. "Untuk memulai itu memang sulit. Tapi kalau sudah dijalani terus, lama-kelamaan jadi terbiasa," katanya.

Keberadaan program Kudus Asik turut membantu pelaku usaha seperti dirinya dalam mengelola sampah organik. Sampah yang sebelumnya berpotensi menumpuk kini dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.


Sampah jadi Berkah

Bagi Udin, pemilahan sampah bukan hanya soal menjaga kebersihan dapur, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang bisa dimulai dari langkah kecil. Ia berharap semakin banyak warga maupun pelaku UMKM di Kudus yang ikut membiasakan diri memilah sampah sejak dari sumbernya.

"Untuk warga Kudus dan UMKM lainnya, mari mulai berusaha memilah sampah organik dengan anorganik. Manfaatnya luar biasa. Sampah organik bisa menjadi pupuk atau kompos untuk tanaman. Sampah anorganik kalau diolah dengan benar juga punya manfaat dan nilai ekonomis," tuturnya.

Kisah Wijaya Catering menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Dari sebuah dapur rumahan yang tumbuh menjadi usaha catering, kebiasaan sederhana seperti memilah sampah ternyata bisa memberi dampak yang lebih luas bagi lingkungan sekitar.

Sesuai semangat yang terus digaungkan melalui program Kudus Asik, menjaga kebersihan lingkungan dapat dimulai dari rumah, tempat usaha, maupun aktivitas sehari-hari. (*)